What went wrong???
for you,
"L" is just only a word you say, not a feeling.
"L" is just only a game you play, it's meaningless.
right?
I'm upset.
I couldn't believe that I loved you once.
"salah satu alasan Tuhan menciptakan waktu adalah agar ada tempat untuk mengubur kegagalan dimasa lalu" -James Long-
Tampilkan postingan dengan label my savior. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my savior. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Januari 2010
Selasa, 16 Juni 2009
and Those are the words

You know that, I’d never know it’d be ended like this. But honestly I’ve seen it before, that it’ll be ended; someday, somehow.
.....
And it happened.
Now…I’m missing something you’ll never keep in mind.
And I write this post since I want you to know that something.
I’ve been trying to not to keep my ears and my eyes open from your charisma, I’ve been struggling to throw away you from my mind, to change your place in my heart. I’ve been trying so hard that I can suddenly cry when I realize that I’ve failed. But you,
You are standing still there.
Then, I told you that I’m missing the words you used to say when I’m about to ‘off’ like this.
but I faithfully know, you'll forget it.
Oh...I wish I could be like you, who can simply forget everything.
But to me, to forget is not as easy as it is to you.
-I love you more, and those are the words-
Jumat, 15 Mei 2009
I'm the cat that walks alone.

Ketika cintamu pergi
Aku pikir, aku bisa
Jalani semua sendiri
Tapi ternyata ini beda,
Aku pikir aku bisa lupakanmu
semudah aku jatuh cinta padamu.
Bagaimana lagi harus ku kumpulkan serpihan hatiku? Karena hatiku hancur tidak berkeping-keping, tapi melebur, meng-abu. Beritahu aku bagaimana?
Aah..sudahlah, merapal zikir saja
Rabu, 21 Januari 2009
bersandarlah!
dan menangislah... menangislah...
menangislah bersamaku, gerimis yang menenangkan!
gerimis yang membawa tetes-tetes berkah di akhir kisah,
gerimis yang selalu kau suka.
maka, menangislah!
Lalu ku biarkan air wudlu membasuh sisa air mata yang hampir kering. Ku jalani sholat tiga raka'at sore itu, bersama gerimis, yang selalu mengerti isi hati.
dan... mencoba khusuk.
Tahiyat akhir pun terlalui, dan berakhir dengan salam. Dzikir ku lafalkan, sembari merasakan kehadiranMu di setiap pembuluh darahku.
Maka, banyak do'a ku pinta sore itu.
"Sadarilah sifat-sifatmu, niscaya Allah membantumu dengan sifat-sifatNya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah membantumu dengan kemuliaanNya. Akuilah ketidakberdayaanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuasaanNya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuatanNya."
Selesai membaca syahadat dan hamdallah, ku ambil Al-Qur'an yang lama sudah tidak tersentuh lembaran-lembarannya. Lalu ku buka lembaran halaman surat ke 36, dan ku baca setiap ayatnya. Hingga ayat ke 21, ku akhiri ritual sholatku sore itu dengan shodakallah hul'adziim.
(kau tahu, do'a perempuan itu lebih ampuh, karena perempuan adalah makhluk yang penyayang)
menangislah bersamaku, gerimis yang menenangkan!
gerimis yang membawa tetes-tetes berkah di akhir kisah,
gerimis yang selalu kau suka.
maka, menangislah!
Lalu ku biarkan air wudlu membasuh sisa air mata yang hampir kering. Ku jalani sholat tiga raka'at sore itu, bersama gerimis, yang selalu mengerti isi hati.
dan... mencoba khusuk.
Tahiyat akhir pun terlalui, dan berakhir dengan salam. Dzikir ku lafalkan, sembari merasakan kehadiranMu di setiap pembuluh darahku.
Maka, banyak do'a ku pinta sore itu.
"Sadarilah sifat-sifatmu, niscaya Allah membantumu dengan sifat-sifatNya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah membantumu dengan kemuliaanNya. Akuilah ketidakberdayaanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuasaanNya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuatanNya."
Selesai membaca syahadat dan hamdallah, ku ambil Al-Qur'an yang lama sudah tidak tersentuh lembaran-lembarannya. Lalu ku buka lembaran halaman surat ke 36, dan ku baca setiap ayatnya. Hingga ayat ke 21, ku akhiri ritual sholatku sore itu dengan shodakallah hul'adziim.
(kau tahu, do'a perempuan itu lebih ampuh, karena perempuan adalah makhluk yang penyayang)
Ganbaro, mow!!
sssttt....dengar...dengar...ada yang berbisik!
Dengarkan baik-baik mow, sesuatu sedang mencoba menyampaikan sebuah pesan padamu.
Dengarkan baik-baik!
Tapi suaranya terlalu pelan dan tersamarkan riuh angin yang menggesekkan dedaunan sirsak depan rumah. Apa yang ingin disampaikannya?
Jangan berisik! Coba tahan nafasmu sebentar, jangan pula berkedip! Konsentrasi! Fokuskan telinga pada apa yang akan kamu dengar!
...ssttssttt....
You're about to be defeated, my dear friend!!"
Apa?? Apa yang baru saja dia katakan? Aku tidak mengerti?
Ayo coba pasang telingamu baik-baik! kita dengarkan lagi!
"Belum, kamu belum kalah, jangan menyerah! seringkali, apa yang terlihat dan terdengar tidak sama dengan kenyataan, mow! Tetaplah fokus pada apa yang kamu inginkan! Kamu telah meminta pada Dzat yang tepat, maka tak perlu lah ragu!"
Hah? Apa? kamu mengerti, mow?
Mmmh...sepertinya iya...
"Tidak kah kau melihat pertanda? jejak? semua itu terlihat nyata! belum sadar juga, mow? Kamu tertipu!!"
Apa lagi itu? tertipu?
Aku rasa mungkin saja...
"Sudahlah...jangan didengar bualannya itu. Kamu pun tahu kan, mow, bahwa DIA akan memberi semua yang kamu ingin selama kamu yakin dan optimis akan mendapatkannya? Tenang saja, mow, ada DIA memegangimu."
Iya aku tahu.
Lalu?
Optimis? Oke lah!
Dengarkan baik-baik mow, sesuatu sedang mencoba menyampaikan sebuah pesan padamu.
Dengarkan baik-baik!
Tapi suaranya terlalu pelan dan tersamarkan riuh angin yang menggesekkan dedaunan sirsak depan rumah. Apa yang ingin disampaikannya?
Jangan berisik! Coba tahan nafasmu sebentar, jangan pula berkedip! Konsentrasi! Fokuskan telinga pada apa yang akan kamu dengar!
...ssttssttt....
You're about to be defeated, my dear friend!!"
Apa?? Apa yang baru saja dia katakan? Aku tidak mengerti?
Ayo coba pasang telingamu baik-baik! kita dengarkan lagi!
"Belum, kamu belum kalah, jangan menyerah! seringkali, apa yang terlihat dan terdengar tidak sama dengan kenyataan, mow! Tetaplah fokus pada apa yang kamu inginkan! Kamu telah meminta pada Dzat yang tepat, maka tak perlu lah ragu!"
Hah? Apa? kamu mengerti, mow?
Mmmh...sepertinya iya...
"Tidak kah kau melihat pertanda? jejak? semua itu terlihat nyata! belum sadar juga, mow? Kamu tertipu!!"
Apa lagi itu? tertipu?
Aku rasa mungkin saja...
"Sudahlah...jangan didengar bualannya itu. Kamu pun tahu kan, mow, bahwa DIA akan memberi semua yang kamu ingin selama kamu yakin dan optimis akan mendapatkannya? Tenang saja, mow, ada DIA memegangimu."
Iya aku tahu.
Lalu?
Optimis? Oke lah!
Sabtu, 17 Januari 2009
.....
at last ...
Jika saja aku bisa melepas tali yang mengikat mati kakiku ini dan berlari ke sana, ke tempatmu memandang bintang-bintang terang itu dari atas bukit, duduk disampingmu. Sejenak kemudian, merasa tidak tahan dengan dingin yang semakin mendesak, merebahkan diri lah aku dalam pelukanmu.
Jika saja aku bisa menanggalkan semua yang terpaut dengan pikiranku, dan memaksakan langkahku beranjak untuk tidak sekedar diam dan menanti.
Jika saja aku punya daya, bahkan untuk sekedar mengisi celah diantara jemarimu.
Aku pun hanya bisa menghela nafas, lebih dalam setiap kali merindukanmu.
dan
akhirnya, hanya aku dan Tuhanku yang tahu, apa yang aku lakukan untuk bisa tetap bersamamu.
Jika saja aku bisa menanggalkan semua yang terpaut dengan pikiranku, dan memaksakan langkahku beranjak untuk tidak sekedar diam dan menanti.
Jika saja aku punya daya, bahkan untuk sekedar mengisi celah diantara jemarimu.
Aku pun hanya bisa menghela nafas, lebih dalam setiap kali merindukanmu.
dan
akhirnya, hanya aku dan Tuhanku yang tahu, apa yang aku lakukan untuk bisa tetap bersamamu.
Senin, 05 Januari 2009
-I do really want you to know-
Aku begitu ingin kau tahu; bahwa ada rasa yang seringnya menyelinap masuk bersama oksigen yang ku hirup perlahan saat hening dan sendiri, rasa yang memonopoli setiap fikiranku dengan namamu saat terpejam, rasa itu yang membuatku menyadari ketidakberdayaanku ini, rasa yang perlahan mengelupas lapis demi lapis epidermis kulitku saat kau tidak ada disekelilingku, rasa yang menyita banyak ruang fikirku saat malam sepi tak berdering, rasa itu ada saat aku merindumu.
Aku begitu ingin kau tahu; bahwa ada rasa yang terkadang meracuni setiap kolom otakku dengan sketsa-sketsa hidupmu yang ku reka-reka sendiri, rasa yang selalu bisa melemahkan pertahanan sabarku dan melambatkan kepakkan sayap-sayap pengharapanku, rasa yang memberdayaku dengan semua fikiran tak karuan tentangmu, rasa yang tak jarang menggodaku agar menyerah dan pasrah saja, rasa yang sialnya sering membuatku mempertanyakanmu, rasa itu bernama 'cemburu'.
Tapi satu yang pasti, Aku begitu ingin kau tahu; bahwa ada rasa yang nyata lebih jelas dari kehadiranmu di hari-hariku, rasa yang sama sekali tak tertepiskan, rasa yang aku tidak tahu seberapa dalam dasarnya, rasa yang bisa menaklukan keegoisan "rindu" dan "cemburu", rasa yang pekat menyengat yang sulit untuk dinetralisir, rasa yang bentuknya aku lukis sederhana di ruang mejikuhibiniu hatiku dan menjadi warna yang benar-benar baru dan tidak terduakan, rasa yang aku rasakan saat kau bilang 'I love you more'.
Minggu, 28 Desember 2008
Meninggalkan Jejaring
hujan merimis, mungkin langit sedang meniriskan mendung di atas sana.
cuaca pun mendramatisir, memelankolis.
sejenak ku tatap kembali jejak-jejak kecil yang mulai kesepian, mulai nelangsa.
lalu ku tatap kembali jalan setapak dihadapanku, ada ragu yang begitu aku benci, ada harapan yang sedang malas mengepak sayap, dan ada banyak kesempatan yang menunggu di setiap persimpangan.
Aku meragu, aku mengharap, aku mencari kesempatan.
tapi, ahh....haruskah kutinggalkan jejaring itu?
jejaring yang kita pintal bersama selama lebih dari empat musim?
tapi,
ada kau di sana, ada kita, ada semua outline naskah cerita masa depan kehidupan kita.
bagaimana ini?
langit mengelabu pekat awan-awan,
aku tidak diam, tidak pun melangkah, aku
pasrah saja.....
cuaca pun mendramatisir, memelankolis.
sejenak ku tatap kembali jejak-jejak kecil yang mulai kesepian, mulai nelangsa.
lalu ku tatap kembali jalan setapak dihadapanku, ada ragu yang begitu aku benci, ada harapan yang sedang malas mengepak sayap, dan ada banyak kesempatan yang menunggu di setiap persimpangan.
Aku meragu, aku mengharap, aku mencari kesempatan.
tapi, ahh....haruskah kutinggalkan jejaring itu?
jejaring yang kita pintal bersama selama lebih dari empat musim?
tapi,
ada kau di sana, ada kita, ada semua outline naskah cerita masa depan kehidupan kita.
bagaimana ini?
langit mengelabu pekat awan-awan,
aku tidak diam, tidak pun melangkah, aku
pasrah saja.....
Curhat pada Tuhan

Tuhan,
Kau bilang aku boleh meminta apapun kepadaMU.
apapun itu, pasti Kau akan mengabulkannya, iya kan?
kalau begitu,
kali ini aku ingin meminta satu hal
yang hanya Kau dan aku yang tahu.
rahasiakan ini, ya!!
dan,
do'aku beterbangan dibawa angin malam ini,
kemudian mengendap bersama awan-awan,
ikut menemani
taburan bintang dan bulan yang berkilauan keemasan,
perlahan, bergerak seiring hembusan angin
jauh....jauh sekali angin membawanya
melintasi waktu untuk menanti
terbawa pulang hujan yang membawa banyak berkah
kemudian, terwujudlah semua do'a yang selama ini
ku pinta,
amin.
Rabu, 03 Desember 2008
Selasa, 02 Desember 2008
sePiaku
...................................
Malam larut
dan aku kalut,
merunut waktu, menanti kantuk
gelisah, aku mengharap ragu
bilamana dering melagu
karena aku rindu.
Akhir November,
dan dedaunan belum ingin mengering.
Malam larut
dan aku kalut,
merunut waktu, menanti kantuk
gelisah, aku mengharap ragu
bilamana dering melagu
karena aku rindu.
Akhir November,
dan dedaunan belum ingin mengering.
Jumat, 28 November 2008
Gerimis

Aku tinggalkan penat saat melangkah keluar dari pintu itu. Lelah rasanya mengurusi PR anak-anak yang harus kuberikan, menggambar grafik kemajuan dan melengkapi beberapa data yang kurang.
Dan saat langkah demi langkah semakin jauh dari penat,bahkan putaran roda angkot menjaraki, ku kira aku bisa benar-benar mengakhirinya.
Langit berubah abu-abu, dan udara menghembuskan nafas dingin yang menusuk.Aku rasa, cuaca sore ini akan semakin melengkapi kepenatanku ini.
Aku berjalan semakin cepat seiring awan yang menggumpal semakin pekat. Namun langkahku tidak bisa membuat mendung menahan titik-titik kecil airnya. Mereka pun turun, menyerbu bumi dengan bulir-bulir tajam yang ringan.
Mereka pun turun, membuatku terpaksa mengeluarkan payung kecil yang selalu ku bawa dalam tasku.Dan aku berjalan sendirian, di sore yang basah dan kelabu.
Hingga tiba di sebuah lorong gang kecil yang panjang. Dibentengi dinding tembok tinggi dan pohon-pohon alpukat berdaun lebat, yang saat hendak berbuah digerayangi banyak ulat hijau yang besar dan gendut, dan terkadang ulat-ulat itu bergelantungan di ranting-ranting pohonnya dan berjatuhan saat kita melintasi gang. Gang itu sepi, dan warna sore ini membuatnya semakin terasa sepi.
Langkah malasku pun mengiringi.
Di depan sana, setelah lorong gang habis, ada jalan kecil dikelilingi beberapa petak sawah di kanan-kirinya. Saat semakin dekat dengan mulut gang, aku berjalan perlahan, memerhatikan langkahku karena jalannya menurun dan licin.
Dan ketika keluar dari gang itu, aku seperti diberikan "birthday surprise", saat lampu tiba-tiba mati dan secara perlahan setitik cahaya emas keperakan diatas lilin kecil yang dibawa teman dan kerabat terdekat perlahan mendekat sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Seperti itulah kurang lebih rasanya saat aku keluar dari mulut gang kecil yang sepi itu;
Warna langit tidak lagi abu-abu, aku lihat di sebelah barat diantara hamparan padi yang masih hijau itu, ada cahaya hangat mentari yang beranjak turun. Langit kini berwarna cerah dalam sore yang gerimis. Lalu aku perhatikan titik-titik kecilnya yang halus, yang menerawang dalam cahaya terang senja, membuatku merindukan seseorang.
Seseorang yang aku harapkan bisa berjalan bersama di bawah gerimis.
dan, aku suka sore ini. Bergerimis.
Sabtu, 18 Oktober 2008
Aku Hari Ini
"sesekali, berdirilah di tempat aku berdiri--di tempat aku melihat--di tempat aku mendengar"
kutipan dari sini
Kalimat itu, andai saja aku bisa mengatakannya padanya. Andai saja bisa. Aku begitu rapuh, hingga tidak ada yang bisa aku lakukan.
Saat hati dibakar api cemburu, aku hanya mampu meredamnya sendirian, menenggelamkan diri dalam tajamnya dingin yang bersekongkol dengan segala fikiran-tak-karuan tentangmu.
Aku sungguh tidak meragukanmu. Sama sekali tidak.
Hanya saja, rasa takut begitu menguasaiku. Akan sebuah rasa yang dulu sekali pernah aku cicipi pahitnya hingga aku tidak mau lagi, sungguh, rasakan kembali--Kehilangan.
Maka, sesekali cobalah berdiri di tempat aku berdiri, sayang. Rasakan apa yang aku rasa.
Rasakan takut itu.
Rasakan semua ketidakberdayaanku juga,
untuk bisa bertemu denganmu.
...kang,
Minggu, 12 Oktober 2008
NIJI
Selasa, 07 Oktober 2008
BULIR

Adakah kau temukan bulir embun pagi di tempatmu?
lihatlah lebih dalam,
ada aku dalam bulatan kecil kaca air itu,
ada aku sedang meniti helai demi helai rindu yang terkumpul lama semenjak kau jauh,
melalui bulir itu,
bulir air mataku,
aku ungkapkan rasa rinduku padamu.
Rasa ini, rasa yang menyesakkan. Tahu kah kau? ... Menyesakkan.
Minggu, 05 Oktober 2008
Waiting in Vain

Saat rindu mengontaminasi hati,
kenapa waktu berjalan begitu lambat?
Aku kini, lalui semua sisa waktu ini, masih sendiri.
Sama saja buatku.
Aku menanti.
Waktu berlalu.
Dan, aku masih menanti. Walau waktu pun berlalu.
Berlalulah waktu... Berlalulah...
Agar tak sia-sia penantianku.
Berlalulah dengan cepat...
Agar rindu ini tak semakin akut menjalari hatiku.
Berlalulah waktu...
Berlalulah...
Agar aku bisa segera temui waktu saat ku bertemu kekasihku.
Aku berharap waktu tidak berhenti berlalu, karena jika begitu, I would wait in vain then.
Mencari Celah
Riuh suara dedaunan bergesekan tersenggol hembusan angin. Dinginnya nyata menusuki kulitku sore ini. Aku bergidik mengusap-usap pangkal lenganku dan merungkut menenggelamkan wajahku semakin dalam diantara lutut yang gemetar.
Aku sendirian di sore yang berangin ini. Mengharapkan sesuatu. Seseorang.
Sore pun berlalu, matahari bergegas pulang menggiring serta harapanku kedalam gelap.
Gelap?? Harapan?? Menjadi Gelap??
Gelapkah?
Aku tidak tahu. Mungkin saja harapan itu memang menjadi gelap saat aku ingin lelap dalam senyap yang pengap dan terlupa. Sejenak terlupa akan semua harapan. Maka ku gelapkan saja.
Dan saat mentari merangkak pelan dari ufuk timur keesokan harinya, mungkin aku kan dapati kembali harapan yang cerah dan hangat, menyapaku dengan tatapan semangat yang berartikan bahwa "harapanku adalah hidupku, teruslah berharap walau hanya ada sedikit celah"
Lalu dimanakah celah itu berada?
Benarkah harapan itu adalah hidupku? Benarkah aku harus terus berharap?
Sesungguhnya hidup ini memang penuh dengan ketidakpastian.
Minggu, 24 Agustus 2008
15 Agustus 2008 lalu
Langit Bandung sepi! Lagi-lagi mendung melahap bintang-bintang itu, dan bulan yang kemarin hampir terlupakan pun dibuat muram olehnya.
Hari itu. Sepertinya... Aku pernah mengalaminya.
Situasi persis seperti itu, dimana hujan, angin dan petir jadi satu.
Langit sepertinya marah.
Entahlah...Tapi kurasa, suasana seperti itu adalah refleksi cuaca hatiku hari itu.
Aku menangis saat itu. Menangisi kedatanganmu yang lagi-lagi,
tak jadi.
Aku tidak ingin menangis, sebenarnya, tapi aku sungguh tak kuasa menahan bulir air mata pertamaku. Setetes mengalir. Kemudian bertetes-tetes, menganak mengikuti lekukan pipiku, dan.... jatuh.
Aku menangis...dan aku biarkan diriku tenggelam dalam isakan yang tersembunyi, sunyi.
Bagiku saat itu, menangis adalah obat penyembuh ampuh.
Langit pun seolah merasakan kesedihanku. Ia hitam dan menggumpal. Marah.
Saat tak sanggup lagi menahan amarah, meledaklah tangisan langit menjadi tetes-tetes deras, dan gelegar dalam guratan kilat menakuti semua orang, bahkan sanggup menghancurkan kokohnya beringin. Ia marah. Marahnya merontokkan dedaunan, menghempaskan atap-atap seng dan melontarkan yang lemah dan rapuh semakin jauh dan terjatuh dalam keasingan.
Dan, langit yang marah membiaskan tangisku hari itu.
Kemudian, saat amarah langit mereda, akupun lega. Menangis bersama langit yang sedang marah.
Masih,
menantimu dalam batas yang tak jelas.
Hari itu. Sepertinya... Aku pernah mengalaminya.
Situasi persis seperti itu, dimana hujan, angin dan petir jadi satu.
Langit sepertinya marah.
Entahlah...Tapi kurasa, suasana seperti itu adalah refleksi cuaca hatiku hari itu.
Aku menangis saat itu. Menangisi kedatanganmu yang lagi-lagi,
tak jadi.
Aku tidak ingin menangis, sebenarnya, tapi aku sungguh tak kuasa menahan bulir air mata pertamaku. Setetes mengalir. Kemudian bertetes-tetes, menganak mengikuti lekukan pipiku, dan.... jatuh.
Aku menangis...dan aku biarkan diriku tenggelam dalam isakan yang tersembunyi, sunyi.
Bagiku saat itu, menangis adalah obat penyembuh ampuh.
Langit pun seolah merasakan kesedihanku. Ia hitam dan menggumpal. Marah.
Saat tak sanggup lagi menahan amarah, meledaklah tangisan langit menjadi tetes-tetes deras, dan gelegar dalam guratan kilat menakuti semua orang, bahkan sanggup menghancurkan kokohnya beringin. Ia marah. Marahnya merontokkan dedaunan, menghempaskan atap-atap seng dan melontarkan yang lemah dan rapuh semakin jauh dan terjatuh dalam keasingan.
Dan, langit yang marah membiaskan tangisku hari itu.
Kemudian, saat amarah langit mereda, akupun lega. Menangis bersama langit yang sedang marah.
Masih,
menantimu dalam batas yang tak jelas.
Langganan:
Postingan (Atom)


